Saturday, November 26, 2011

Gereja Sion

Gereja Sion dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis berada di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya. Bangunan gereja ini memiliki kemegahan arsitektur serta daya tahan yang kokoh. Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis selesai dibangun pada tahun 1695. Peresmian gedung gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693.
Meski berada di wilayah Kota Tua, namun dulunya gereja ini masih berada diluar tembok pusat kota yang berpusat di Batavia. Maka tak heran jika saat itu, gereja ini diberi nama Gereja Portugeesche Buitenkerk yang artinya, Gereja orang Portugis yang berada di luar tembok Kota. Maklum saja saat Belanda berkuasa, tembok besar dibangun sebagai pembatas antar kota, dimana orang Tionghoa diasingkan ke Glodok.

Gereja Sion 
Cerita lengkap pemberkatan gereja ini tertulis dalam bahasa Belanda pada sebuah papan peringatan. Sampai sekarang, masih bisa dilihat di dinding gereja.
Gereja ini merupakan gedung tertua di Jakarta yang masih dipakai untuk tujuan semula seperti saat awal didirikan. Rumah ibadah ini masih memiliki sebagian besar perabot yang sama juga. Gereja ini pernah dipugar pada 1920 dan sekali lagi pada 1978. Bangunan gereja ini dilindungi oleh pemerintah lewat SK Gubernur DKI Jakarta CB/11/1/12/1972.
Flashback
Asal nama Gereja Sion adalah De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk (Gereja Portugis Baru diluar tembok kota), dinamakan demikian karena Gereja Sion terletak di luar tembok kota Betawi. Pendirinya ialah pengusaha Belanda di zaman VOC pada abad ke-17, bekerja sama dengan kalangan Gereja Protestan.
Gereja Sion: Litografi Gereja Sion (1883-1889)
Persetujuan rencana proyek dilakukan tahun 1692 dengan perancang bangun Mr. Ewout Verhagen dari Rotterdam, seorang saudagar berkebangsaan Belanda.
Bangunan gereja tua ini juga memiliki nama Belkita, semasa Hindia Belanda menguasai Batavia. Karena pada masa pendududukan Belanda setelah mengambil alih pendudukan Portugis, pemerintahan Belanda masa itu membangun tembok batas pertahanan kota pemerintahannya. Portugeesche Buitenkerk yang berada di luar tembok pemerintahan Belanda. Karena sampai pada awal abad ke-19 pun masih ada gereja Portugis lain yang ada di dalam kota.
Gereja ini membentuk ruang besar dan luas layaknya seperti sebuah aula yang digunakan sebagai pusat peribadatan. Sebuah mimbar bergaya barok, berdiri di tengah altar. Sisi kanan menghadap altar berderet kursi besar berukir buatan pertengahan abad ke-17. Dibuat khusus bagi para petinggi VOC, termasuk buat gubernur jenderal Belanda. Sedangkan di tengah atas sandaran kursi yang terbuat dari kayu hitam itu terukir kitab suci yang terbuka.
Gereja Sion: Gambar Tembok Batavia dan Portugese Buitenkerk Tahun 1709
Di sisi lain, Gereja Sion dibangun sebagai pengganti sebuah pondok terbuka yang sangat sederhana. Pondok ini sudah tak memadai bagi warga Portugis Mardijkers berstatus tawanan yang berasal dari Malaya dan India untuk beribadah. Sebagai tawanan, mereka dibawa ke Batavia oleh VOC bersamaan dengan jatuhnya wilayah kekuasaan Portugis di India, Malaya, Sri Lanka, dan Maluku.
Dalam sejarahnya, gereja Sion beberapa kali terancam. Pada masa pendudukan Jepang, gereja ini sempat akan dijadikan tempat abu tentara yang gugur. Kemudian pada 1984, halaman gereja menyempit karena harus mengalah pada kepentingan pelebaran jalan.
Setelah Indonesia merdeka, Portugeesche Buitenkerk berganti nama menjadi Gereja Portugis. Sebagai peralihan kekuasaan pemerintahan, Pemerintahan Belanda memberikan kepercayaan pengelolaan asset peninggalannya kepada Gereja-gereja Protestan di Indonesia (GPI). Wilayah pelayanan GPI pada bagian barat Indonesia diemban oleh Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB). Maka, pada persidangan Sinode GPIB tahun 1957 Gereja Portugis, diputuskan untuk bernama GPIB Jemaat Sion. Dan masyarakat kini mengenal bangunan itu dengan Gereja Sion. Sion berasal dari nama sebuah bukit di daerah Palestina berbahasa Ibrani dan merupakan lambang keselamatan pada bangsa Israel kuno. (Wikipedia)
Anggota Majelis Gereja Sion, Hadikusumo, menuturkan pada tahun 1957, rapat akbar umat gereja memutuskan untuk mengganti nama Gereja Portugis ini menjadi Gereja Sion yang berarti lambang bukit keselamatan. Hingga saat ini nama Gereja Sion masih digunakan dan sebagai tempat beribadatan uman Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat atau GPIB. (BeritaJakarta.com)
Gereja Sion: Altar Gereja Sion
Gereja dibangun dengan fondasi 10.000 batang kayu dolken atau balok bundar. Konstruksi ini berdasarkan rancangan Mr E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. Seluruh tembok bangunan terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan campuran pasir dan gula tahan panas.
Gereja Portugis termasuk gereja bangsal (hall church). Gereja ini membentuk satu ruang panjang dengan tiga bagian langit-langit kayu yang sama tingginya dan melengkung seperti setengah tong. Langit-langit itu disangga enam tiang.
Ada mimbar unik bergaya Barok. Salah satu perabot asli gereja ini merupakan persembahan indah dari H. Bruijn. Letaknya ada di bagian belakang bersama bangunan tambahan. Mimbar ini bertudung sebuah kanopi, yang ditopang dua tiang bergulir dengan gaya rias Ionic serta empat tonggak perunggu.
Present
Bangunan berbentuk persegi empat ini punya luas total 24 x 32  m². Pada bagian belakang, dibangun bangunan tambahan berukuran 6 x 18  m². Gereja mampu menampung 1.000 jemaat. Sedang luas tanah seluruhnya 6.725  m².
Gereja Sion
Di bagian dalam, beberapa kursi berukiran bagus dan bangku dari kayu hitam atau eboni masih juga dipakai. Dilengkapi meja kayu, kursi-kursi itu dipakai untuk kepentingan rapat gereja. Tak ketinggalan acara sidang pencatatan sipil bagi anggota jemaat yang akan menikah secara gerejawi.
Pada salah satu dinding gereja, ada batu bertulis dalam bahasa Belanda. Konon tulisan ini merupakan sejarah berdirinya Gereja Sion. Bagian atas, belakang, terletak orgel atau orgen tiup tua dengan pipa-pipa panjang. Orgel itu dulu digunakan sebagai pengiring saat jemaat tengah bersembahyang. Organ ini diletakkan di balkon yang disangga empat tiang langsing. Organ ini pemberian putri seorang pendeta bernama John Maurits Moor ini terakhir kali dipakai pada 8 Oktober 2000.
Di pintu barat gereja terdapat 11 makam kuno dengan batu nisan besar khas zaman Belanda. Kesebelas nisan makam ini dipasang secara mendatar. Bahan nisan terbuat dari bahan batu yang didatangkan dari India, atau tepatnya dari daerah Pantai Koromandel.
Selain menjadi tempat wisata, hingga saat ini Gereja Sion juga masih digunakan sebagai tempat peribadatan oleh umat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB). Tak heran jika gereja yang dijuluki sebagai Gereja Portugis ini telah mengalami pemugaran pada tahun 1920 dan juga pada tahun 1978 (Heuken). Termasuk penyempitan halaman gereja yang digunakan sebagai perluasan Jalan Pangeran Jayakarta.

(BeritaJakarta.com/kerontjongtoegoe.com/VIVAnews/Wikipedia)

No comments:

Post a Comment