Pages

Wednesday, January 25, 2012

Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal

Karya-karya unggulan para ulama dan intelektual muslim Nusantara sejak abad ke-17 sampai abad ke-20 yang bernilai historis dapat disaksikan di sini. Warisan budaya berupa mushaf, manuskrip Al Qur’an, arsitektur, dan seni rupa islami yang memiliki keindahan seni juga tersimpan. Bayt al Qur’an & Museum Istiqlal, memang menghadirkan pesona untuk direnungkan.
Bayt Al Qur’an & Museum Istiqlal didirikan untuk meningkatkan kecintaan, pemahaman, dan pengamalan ajaran-ajaran Al Qur’an. Nilai-nilai Al Qur’an juga telah mengilhami, mendorong, dan memperkaya budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kekayaan budaya Indonesia yang bernafaskan Islam dalam berbagai bentuknya perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Bayt al Qur’an & Museum Istiqlal merupakan kesatuan dari dua lembaga yang berbeda namun dalam kesatuan konsep. Bayt Al Qur’an, yang berarti rumah Al Qur’an, dengan materi pokok berupa peragaan yang berkaitan dengan Al Qur’an, sedangkan Museum Istiqlal menampilkan hasil-hasil kebudayaan Islam Indonesia.
Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal
Flashback
Ide awal pendirian Bayt Al Qur’an muncul dari Dr. H. Tarmizi Taher pada tahun 1994 ketika menjabat sebagai Menteri Agama RI. Pada suatu ketika ia mendampingi Presiden H.M. Soeharto menerima hadiah sebuah Al Qur’an besar dari Pondok Pesantren Al Asy’ariyah, Kalibeber Wonosobo, Jawa Tengah. Satu tahun kemudian, tepatnya pada 1995, pada peringatan 50 tahun kemerdekaan RI, Presiden meresmikan Mushaf Istiqlal yang telah selesai dikerjakan sejak 1991.
Mushaf Istiqlal merupakan sebuah mushaf ukuran besar yang ditulis dengan khat yang indah, dilengkapi dengan hiasan (iluminasi) dari ragam hias 27 propinsi di Indonesia saat itu. Pada waktu itulah tercetus ide mendirikan Bayt Al Qur’an sebagai tempat menghimpun, memelihara, dan memamerkan Mushaf Al Qur’an dari berbagai macam bentuk dan jenis, yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Ide ini kemudian langsung mendapat dukungan Ibu Tien Soeharto yang langsung mewakafkan tanah seluas 1 ha di kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, tepatnya sebelah kanan pintu masuk utama TMII. (Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal)
Bayt Al Qur’an & Museum Istiqlal yang menempati areal seluas 20.013  m² dibuka untuk umum tanggal 20 April 1997 bersamaan dengan peresmian oleh Presiden Soeharto. Tujuannya untuk menampilkan Islam sebagai pemersatu bangsa dari berbagai etnik di Indonesia dengan menampilkan ajaran dan kebudayaan Islam Indonesia yang berkualitas dan kreatif dalam upaya untuk memantapkan jati diri bangsa, menampilkan wajah Indonesia yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia dalam percaturan internasional melalui kajian sejarah perkembangan ajaran Islam dan implementasinya dalam seni dan budaya, menyampaikan makna yang lebih dalam tentang ajaran Islam dan karakter kebudayaannya yang bersifat terbuka, otentik, toleran, progresif dan kosmopolitan; dan sebagai pemicu (trigger) untuk pengkajian ajaran dan kebudayaan Islam secara lebih dalam khususnya di Indonesia dan umumnya di Asia Tenggara. (Taman Mini Indonesia Indah/Wikipedia)
Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal
Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal dimaksudkan untuk menjadi dua lembaga yang memiliki kesatuan utuh, dengan perannya masing-masing. Keduanya menyatu dalam upaya meningkatkan kecintaan, pemahaman, dan pengamalan Al Qur’an. Melihat kedudukan dan fungsinya, Museum Istiqlal tidak dapat dipisahkan dari Bayt Al Qur’an. Bayt Al Qur’an menggambarkan fungsi Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan Museum Istiqlal merupakan perwujudan pelaksanaan petunjuk Allah dalam kehidupan dan budaya umat Islam Nusantara. Lebih dari sekedar tempat untuk menyimpan dan memamerkan Al Qur’an dari berbagai tempat di Indonesia, Bayt Al Qur’an & Museum Istiqlal juga merupakan wadah kajian dan pengembangan ilmu yang berkaitan dengan Al Qur’an dan budaya Islam.
Selain benda-benda tradisional, para seniman muslim Indonesia, dalam perjalanannya, juga banyak menghasilkan karya seni kontemporer, berupa mushaf, lukisan, kaligrafi, dan lain-lain. Bayt Al Qur’an & Museum Istiqlal sekarang ini secara struktural berada di dalam organisasi Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat, Kementrian Agama Republik Indonesia.
Pengelolaan Bayt Al-Qu'ran & Museum Istiqlal saat ini berada di bawah Kementrian Agama RI. Pada tahun 1997 hingga 2002 dikelola oleh Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, tepatnya di bawah Direktorat Penerangan Agama Islam. Seiring dengan adanya restrukturisasi organisasi Departemen Agama RI, pada tahun 2002 pengelolaan Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal dialihkan ke Ditjen Kelembagaan Agama Islam, di bawah Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid, yang membawahi Subdit Siaran dan Tamadun, dan memiliki Seksi Museum Islam. Pada tahun 2005 Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal kembali harus menyesuaikan diri beralih ke Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam di bawah Direktorat Penerangan Agama Islam.
Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal: Mushaf La Lino
Akhirnya, sejak tahun 2007 Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal secara struktural berada di bawah organisasi Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an. Kepala Lajnah dijabat oleh Drs. Muhammad Shohib, MA. Di dalam struktur yang baru ini Bayt Al Qur’an dan Museum Istiqlal berada di bawah Bidang Bayt Al Qur’an dan Dokumentasi.
Present
Bangunan Bayt Al Qur’an & Museum Istiqlal berlantai empat dengan lingkungan yang jauh dari polusi memiliki fasilitas ruangan yang lengkap seperti, serba guna (main hall), auditorium, audiovisual, ruang kelas, pameran, balkon, dan lain-lain. Semua itu dapat digunakan untuk mengadakan kegiatan seperti, seminar, pertunjukkan, pameran, perlombaan, forum ilmiah, syukuran, dan lain-lain.
Ruang pamer Bayt Al Qur’an menghadirkan beragam seni mushaf dari dalam dan luar negeri, seperti Mushaf Istiqlal yang menjadi primadona pada Festival Istiqlal II 1995, Mushaf Wonosobo, yang merupakan terbesar hasil kreasi dua orang santri Pondok Pesantren Al Asy’ariyah, Wonosobo, Jawa Tengah, Mushaf Sundawi yang menampilkan iluminasi ragam hias khas Jawa Barat, Mushaf La Lino yang berasal dari Kesultanan Bima, dan Mushaf Malaysia yang menampilkan iluminasi ragam khas Malaysia.
Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal: Mushaf Istiqlal
Ditampilkan pula Al Qur’an standar Departemen Agama RI, Al Qur’an biasa dan Al Qur’an Braille untuk umat Islam tunanetra. Disajikan juga Al Qur’an Interaktif dalam bentuk software computer yang dapat dioperasikan secara digital seperti program-program aplikasi komputer lainnya.
Museum Istiqlal menyajikan koleksi karya seni budaya bangsa Indonesia yang bernafaskan Islam, antara lain manuskrip keagamaan (selain Al Qur’an), karya arsitektur, benda arkeologis, benda tradisi, dan seni rupa kontemporer.
Ruang peraga Museum Istiqlal menyimpan dan memamerkan benda-benda budaya yang telah berabad lamanya, menembus peradaban suku, bahasa, daerah, dan adat istiadat di Indonesia. Kejayaan historis masa lalu dan masa kini berbaur dalam suatu peristiwa. Manuskrip Al Qur’an, benda-benda tradisi dan warisan, arsitek, seni rupa kontemporer, serta benda islami lainnya, semua tersimpan di sini, sebagai hasil implementasi dan implikasi budaya yang bersumber dari Al Qur’an.
Selain itu, Museum yang menjadi saksi sejarah perjalanan panjang Islam di Indonesia ini juga menampilkan hasil-hasil karya seniman Muslim Indonesia dan mancanegara. Ada juga Al Qur’an yang diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Cina dan Prancis.
Bayt Al Qur'an & Museum Istiqlal: Mushaf Wonosobo
Naskah-naskah kuno yang berisi kajian Islam merupakan bukti perjalanan dan perkembangan intelektual Islam di Indonesia. Naskah-naskah tersebut meliputi berbagai bidang ilmu agama seperti tafsir, hadis, ilmu kalam, fiqih, sastra, bahasa, hingga sejarah. Naskah-naskah tersebut berasal dari Aceh, Banten, Jawa, Madura, Nusa Tenggara Barat dan lain-lain.
Benda-benda arkeologis Islam di Indonesia merupakan bukti penting bagi sejarah dan berkembangnya Islam di Indonesia. Benda-benda tersebut merupakan hasil temuan dari situs-situs penting awal mula Islam di Indonesia. Di sini disajikan replika batu nisan dari Aceh, Mojokerto, dan Gresik. Batu nisan bernilai seni tinggi itu tidak hanya berfungsi sebagai penanda makam, tetapi juga merupakan prasasti yang menceritakan sejarah, riwayat kerajaan, serta masyarakat sekitar pada masa lalu.
Benda-benda tradisi yang memiliki nilai-nilai Islami biasanya dipakai untuk keperluan khusus yang berhubungan dengan upacara-upacara adat, seperti perkawinan, kelahiran anak, khitanan, panen raya, dan upacara tradisional lainnya. Terdiri atas berbagai macam media, dari ukiran kayu, keramik, tenun, tekstil, hingga senjata tradisional. Pada umumnya dihiasi kaligrafi Arab berisi kalimat syahadat, ayat kursi, basmalah, dan lain-lain.
Seni rupa Islami kontemporer di Indonesia berkembang sejak tahun 1970-an, dan terus berlangsung hingga saat ini. Karya tersebut sering dan lebih mudah dikenali dari temanya yang sebagian besar berupa kaligrafi ayat-ayat Al Qur’an, meskipun sebenarnya tidak harus menampilkan kailgrafi. Karya seni rupa kontemporer ini merupakan cerminan dari kondisi sosial dan budaya masyarakat masa kini dari sudut pandang seniman Muslim. Di sini disajikan karya perupa Muslim Indonesia dalam bentuk dua dan tiga dimensi, seperti lukisan di atas kanvas, lukisan kaca, tapestry, lukisan batik dan patung kaligrafi, antara lain karya Amri Yahya (alm), Arsono, Yusuf Affendi, Sudjana, dan lain-lain.

1 comment:

Unknown said...

wah kakak trimakasih yaa aku copas buat tugas boleh gak...?

Post a Comment