Pages

Showing posts with label The Historic Sites. Show all posts
Showing posts with label The Historic Sites. Show all posts

Wednesday, January 30, 2013

Masjid Cipaganti

Dari sejumlah masjid yang ada di Kota Bandung, Masjid Besar Cipaganti merupakan salah satu masjid tertua dan paling banyak menyimpan banyak sejarah. Masjid Cipaganti merupakan masjid tertua kedua di Bandung, setelah masjid Raya Agung Bandung. Masjid ini dibangun pada 1933 diarsiteki oleh Kamal Wolf Schoemaker yang tutup usia pada tahun 1949, Proses pembuatan dan perencanaan terlihat dalam catatan yang berada di salah satu tembok masjid tersebut.
Masjid yang terletak di Jalan Cipaganti Nomor 85, Kecamatan Sarijadi, Bandung ini sebagai saksi sejarah yang tak lekang dimakan zaman meski berada ditengah-tengah bangunan modern yang menjulang.
Beratapkan sirap, tiang-tiang kokohnya terbuat dari kayu jati yang terpahat ukiran-ukiran kaligrafi, arsitektur Masjid Cipaganti menggabungkan arsitektur Eropa dengan arsitektur Jawa. Lampu antik berbahan kuningan menggantung di langit-langit, penghias yang menjadi salah satu petanda kekunoannya.
Dibangun di atas areal 2.025 m persegi bangunan asli hasil karya Wolf Schomaker hanyalah area tengah yang berukuran 19x15 m. Sedangkan bagian sayap kiri dan sayap kanan masjid yang masing-masing berukuran 17x15 m dibangun tahun 1965. Selebihnya digunakan untuk pekarangan masjid.
Masjid Cipaganti

Saturday, December 29, 2012

Gedung Perundingan Linggarjati

Gedung Perundingan Linggarjati yang terletak di kaki Gunung Ceremai Kabupaten Kuningan menyimpan sejarah lama perjalanan bangsa Indonesia. Perundingan pertama kali antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Belanda pada 10-13 November 1946, mengukir nama Linggarjati, sebuah desa kecil yang sejuk dan jauh dari keramaian.
Secara astronomis Gedung Perundingan Linggarjati terletak pada koordinat 06º52’7” LS dan 108º28’9” BT. Terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Kuningan dan 20 kilometer dari Kota Cirebon. Letaknya berada di bawah kaki Gunung Ceremai, di ketinggian 400 mdpl. Termasuk Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Gedung Perundingan Linggarjati ini memiliki luas 500 m² dan memiliki halaman yang luas sekitar 2,5 ha.
Flashback
Gedung ini pertama kali dibangun oleh Tuan Mergen atau yang dikenal juga dengan sebutan Tuan Tersana sekitar tahun 1921. Tuan Tersana adalah pemilik pabrik gula Tersana Baru di daerah Cirebon. Setelah mengawini seorang janda kembang bernama Jasitem, konon ia kemudian membangun rumah peristirahatan semi permanen di desa Linggarjati untuk istrinya. Kawasan Linggarjati memang cocok untuk lokasi rumah peristirahatan atau vila, sebab daerah yang berada di ketinggian sekitar 400 m dpl ini cukup sejuk dengan latar belakang pemandangan Gunung Ciremai yang indah.
Gedung Perundingan Linggarjati

Friday, November 16, 2012

Museum Perjuangan Bogor

Museum Perjuangan Bogor didirikan melalui musyawarah para tokoh Pejuang Karesidenan Bogor dengan maksud untuk mewariskan semangat dan jiwa juang serta nilai-nila ‘45 kepada generasi sekarang dan yang akan datang yang meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Depok. Diprakasai dan diresmikan oleh Mayor Ishak Djuarsah PEKUMIL. Daerah Res. INF. 8 Suryakancana Devisi III Siliwangi, pada tanggal 10 November 1957. Pendirian museum dimaksudkan untuk mewariskan semangat dan jiwa juang serta nilai-nilai '45 kepada generasi sekarang dan yang akan datang.
Dengan sederet nama para pejuang revolusi kemerdekaan seperti  Jalan Kapten T.B. Muslihat, Jalan Mayor Oking Djajaatmadja, Jalan Merdeka, Jalan Veteran, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Dr Semeru dsb. Museum Perjuangan Bogor ini tepatnya berlokasi di Jalan Merdeka Nomor 56 Bogor Kota.
Museum Perjuangan Bogor
Flashback
Gedung yang digunakan sebagai museum, sebelumnya adalah  milik seorang pengusaha Belanda yang bernama Wilhelm Gustaf Wissner. Dibangun pada tahun 1879 yang pada awalnya digunakan sebagai gudang ekspor komoditas pertanian sebelum dikirim ke negara-negara di Eropa. Pada masa pergerakan gedung ini digunakan oleh Parindra pada tahun 1935  dengan nama gedung Persaudaraan, dan digunakan sebagai tempat kegiatan pemuda dibawah panji-panji Kepanduan Indonesia yaitu Pandu Suryawirawan.

Tuesday, August 28, 2012

Istana Cipanas

Terletak di kaki Gunung Gede, bangunan yang kini menjadi Istana Cipanas sejak awal benar-benar tempat tetirah bagi para Gubernur Jenderal, bukan gedung pemerintahan atau rumah dinas seperti Istana Bogor atau Istana Merdeka. Pemandian air panas, sumber air mineral, serta udara pegunungan yang bersih, makin menyempurnakan kompleks itu sebagai tempat persinggahan yang digemari para pejabat tinggi. Penciptanya adalah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff, yang juga menggagas Puri Buitenzorg.
Istana Cipanas yang merupakan Istana Kepresidenan. Tepatnya lebih kurang 103 km dari Jakarta ke arah Bandung melalui Puncak, atau sekitar 20 km dari kota Kabupaten Cianjur. Istana ini terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, di kaki Gunung Gede, Jawa Barat, pada ketinggian 1.100 m dpl. Luas areal kompleks istana ini lebih kurang 26 ha, namun sampai saat ini hanya 7.760 m² yang digunakan untuk bangunan. Selebihnya dipenuhi dengan tanaman dan kebun tanaman hias yang asri, kebun sayur dan tanaman lain yang ditata seperti hutan kecil.
Istana Cipanas dibangun sebagai tempat peristirahatan dan persinggahan. Halamannya terbagi dalam dua areal, yakni areal taman istana dan areal hutan istana. Dalam areal hutan istana hingga tahun 2001, menurut katalog Pertama Daftar Tanaman Koleksi Istana Kepresidenan Cipanas terbitan Istana Kepresidenan Cipanas, yang bekerja sama dengan Kebun Raya Cibodas, LIPI, tercatat sebanyak 1.334 spesimen, 171 spesies, 132 marga (yang 14 nomor di antaranya diketahui nama marganya), serta 61 suku.
Flashback
Dari keenam istana Presiden, ternyata yang kurang dibekali dengan kisah-kisah perjuangan bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang adalah Istana Cipanas. Letaknya yang terpencil di daerah kaki gunung Gede itu memang tidak memungkinkannya menjadi pusat kegiatan politik/pemerintahan atau bahkan menjadi tempat tinggal yang tetap.
Seperti pesanggrahan di Bogor, pembangunan gedung itu juga diprakarsai oleh van Imhoff. Ketika itu sedang mengadakan perjalanan turne, ia mendapat laporan dari penduduk yang menyebutkan bahwa terdapat sumber air panas di suatu tempat di Cipanas. Contoh air yang khabarnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit itu kemudian dibawa ke Batavia. Setelah diketahui bawa air panas itu memang mengandung zat belerang dan besi, dan dapat menyembuhkan penderita-penderita yang sulit disembhkan di Batavia, maka van Imhoff memutuskan untuk membangun sebuah gedung kesehatan di sekitar sumber air panas tersebut.Pembangunan kemudian terhenti di tengah jalan karena beayanya lebih tinggi dari yang disediakan. Kurang diketahui oleh siapa, kapan dan bagaimana istana itu diselesaikan, tetapi menurut catatan, pemblian tanah dilakukan pada tahun 1740.
Waktu tempat itu diketemukan van Imhoff, disebutkan bahwa jaraknya 24 pal dari Buitenzorg. Dengan kereta kuda, jarak dai Batavia ke Buitenzorg saja sudah memakan waktu setengah hari. Apalagi ke Cipanas yang letanya lebih ke atas lagi, melewati daerah Puncak. Dan kereta-api Batavia-Buitenzorg baru mulai menjalankan dinasnya pada tahun 1864. Sebelum itu orang bepergian dengan berkendaaan kuda atau kereta kuda.
Istana Cipanas

Thursday, August 2, 2012

Observatorium Bosscha

Di ketinggian 1.320 m dpl, berdiri dengan anggun Observatorium Bosscha. Digunakan pada masa Pemerintahan Hindia-Belanda selama ±2 tahun (1919-1922) yang dilakukan di seluruh wilayah Indonesia untuk menentukan lokasi yang tepat bagi peropongan bintang, maka terpilihnya area Observasi Bosscha ini. (Disbudpar Jawa Barat)
Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36' Bujur Timur dan 6° 49' Lintang Selatan. Tempat ini berada pada ketinggian 1.310 m dpl atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Kode observatorium Persatuan Astronomi Internasional untuk observatorium Bosscha adalah 299. (Wikipedia)
Observatorium Bosscha berdiri di atas tanah seluas 6 ha. Berada pada salah satu anak pegunungan Tangkuban Perahu, dengan ketinggian 1.300 m dpl, memiliki pemandangan yang lepas dari arah timur, barat atau pun selatan. Serta memiliki udara yang sejuk dan tenang (saat itu jauh dari keramaian kota). Tanah ini adalah buah kemurahan hati dari Ursone bersaudara, pemilik PT Baroe Adjak dihibahkan untuk observatorium yang awalnya bernama Bosscha Strennwach. Di lokasi sama, sebelumnya telah berdiri stasiun Meteorologi tempat penentuan koordinat di bumi, berdiri tahun 1895. Bekas perlengkapannya, seperti tower dan instalasi lainnya masih bisa disaksikan meski sudah tidak berfungsi lagi. (Bandung Heritage)
Observatorium Bosscha: Refraktor Ganda
Zeiss 60 cm

Wednesday, August 1, 2012

Hotel Savoy Homann

Hotel Savoy Homann terletak di Jalan Asia Afrika Nomor 61, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung, secara geografis berada dan pada garis koordinat 06ᵒ55'17,8" LS dan 107ᵒ36'37,8" BT, di kawasan kota bersejarah alun-alun Kota Bandung, letaknya di kiri depan Gedung Merdeka. Hotel ini berbatasan dengan batas utara: Jalan Asia Afrika, batas Timur: Kantor Keuangan, batas selatan gang kecil, batas barat: Jalan Homann/Toko Padang. Sekarang kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda empat atau dua dan dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang.
Salah satu hotel tertua di Pulau Jawa ini menjadi saksi sejarah berkembangnya pariwisata di bumi nusantara. Hotel ini, sama halnya Hotel des Indes di Batavia (sekarang Pertokoan Duta Merlin), menjadi hotel-hotel yang direkomendasikan para pelancong Eropa, terutama untuk urusan makanannya yang mewah dan dihidangkan dengan gaya rijsttafel.
Hotel Savoy Homann
Hotel Savoy Homann adalah hotel bintang empat yang berada di Jalan Asia-Afrika (dahulu Jalan Raya Pos) Nomor 112, Cikawao, Lengkong, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Hotel ini dikenal akan arsitektur dan tamu-tamunya.

Friday, July 20, 2012

Museum Geologi

Museum Geologi terletak tidak jauh dari Gedung Sate dan masih berada dalam satu kawasan bangunan-bangunan bersejarah. Gedung berada di sisi Jalan Diponegoro Nomor 57, yang termasuk ke dalam Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong. Secara geografis berada pada koordinat 06ᵒ54'03,3" LS dan 107ᵒ37'16,9" BT. dan sekitar gedung kini telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk mencapainya relatif mudah melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda empat atau dua ataupun menaiki kendaraan umum yang melewati kawasan ini relatif banyak.
Selain sebagai museum, difungsikan pula sebagai labolatorium geologi, dan sampai sekarang pemanfaatannya tetap sama sesuai fungsinya dan dikelola oleh Museum Geologi/Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dengan luas gedung ±3.617,08 m² dan luas kawasan ±8.342,52 m².
Gedung Museum berbatasan dengan, di sebelah utara: Jalan Surapati, timur: Gedung RRI, selatan: Jalan Diponegoro, barat: Jalan Sentot Alibasa. Koleksi Museum Geologi terdiri batuan dan mineral ±250.000 buah, koleksi fosil dan lain-lain ±60.000 buah. Museum Geologi merupakan museum terbesar koleksinya se-Asia Tenggara.
Flashback
Masa Penjajahan Belanda Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Belanda dapat ditunjang. Maka pada tahun 1850 dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumber daya mineral.
Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan, dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
Museum Geologi

Saturday, July 14, 2012

Gedung Sate

Membandingkan Gedung Sate dengan bangunan-bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di banyak ibukota negara sepertinya tidak berlebihan. Persamaannya semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan menara sentral yang megah. Terlebih dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif mirip dengan Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. Dapat dikatakan Gedung Sate adalah Gedung Putih-nya kota Bandung.
Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda atau markah tanah Kota Bandung yang tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, namun juga seluruh Indonesia bahkan model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda-tanda kota di Jawa Barat. Misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.
Jika mengunjungi Gedung Sate di Jalan Dipenogoro Nomor 22, Bandung, dapat ditemui sebuah tugu yang terbuat dari batu alam di halaman depannya. Pada batu tersebut terdapat tulisan yang berbunyi “Dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap serangan pasukan Gurkha tanggal 3 Desember 1945, tujuh pemuda gugur dan dikubur oleh pihak musuh di halaman ini. Bulan Agustus 1952 diketemukan jenazah Suhodo, Didi, dan Muchtarudin, yang dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Jenazah Rana, Subengat, Surjono, dan Susilo tetap berada di sini.” Rupanya, ada jenazah yang masih terkubur di halaman gedung tersebut. Meskipun tidak banyak orang yang mengetahuinya, kisah yang terkandung pada tugu batu tersebut tidak akan pernah hilang dari sejarah.
Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².
Flashback
Gedung Sate didirikan pada 27 Juli 1920, gedung ini awalnya memang dibangun sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dimana Pemerintahan Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai Ibukota negeri jajahannya di Indonesia. Pemilihan Kota Bandung didasarkan pada pertimbangan iklim yang cocok karena Kota Bandung begitu sejuknya ditambah pemandangan alam yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat ini senyaman Perancis Selatan di musim panas.
Dengan penetapan pusat pemerintah itu, maka dibangunlah Gedung Sate atau Gouvernements Bedrijven sebutannya di masa itu dengan perencanaan yang dibuat secara matang oleh suatu tim yang diketuai Kolonel Purnawirawan V.L. Slors, beranggotakan antara lain Ir. J. Berger, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan In G. Hendriks serta pihak Gemeete van Bandoeng. (Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat)
Gedung Sate

Sunday, July 8, 2012

Istana Kepresidenan Bogor

Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan faunanya. Salah satunya adalah keberadaan rusa-rusa yang didatangkan langsung dari Nepal dan tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.
Saat ini sudah menjadi trend warga Bogor dan sekitarnya setiap hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya berjalan-jalan di seputaran Istana Bogor sambil memberi makan rusa-rusa indah yang hidup di halaman Istana Bogor dengan wortel yang diperoleh dari petani-petani tradisional warga Bogor yang selalu siap sedia menjajakan wortel-wortel tersebut setiap hari libur. Seperti namanya, istana ini terletak di Bogor, Jawa Barat.
Walaupun berbagai kegiatan kenegaraan sudah tidak dilakukan lagi, khalayak umum diperbolehkan mengunjungi secara rombongan, dengan sebelumnya meminta izin ke Sekretaris Negara, c.q. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.
Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda Nomor 1, Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat, sekitar 60 km dari Jakarta atau 43 km dari Cipanas. Istana ini berada di pusat kota Bogor, di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28,86 ha, di ketinggian 290 m dpl.
Istana Kepresidenan Bogor: Istana Bogor

Monday, February 20, 2012

Vihara Avalokitesvara

Peradaban manusia yang telah berjalan sejak lama menyisakan situs-situs yang begitu menarik dan berarti, salah satunya yaitu sebuah bangunan vihara peninggalan kerajaan Banten. Vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara ini, telah berdiri sejak abad ke 16 dan dikenal sebagai salah satu vihara tertua di indonesia.
Vihara yang termasuk dalam Kawasan Situs Banten Lama dan konon dibangun sekitar tahun 1652 ini diberi nama Vihara Avalokitesvara. Nama vihara tersebut diambil dari nama salah seorang penganut Buddha, yaitu Bodhisattva Avalokitesvara, yang artinya mendengar suara dunia.
Sementara itu, keberadaan vihara di pusat Kota Banten Lama dan letaknya yang tidak terlalu jauh dari Masjid Agung Banten, menjadi bukti lain dari fenomena kerukunan antarumat beragama di Banten pada masa lalu. Hinga kini, tradisi kerukunan antarumat beragama tersebut masih terjalin dengan baik.
Vihara Avalokitesvara

Sunday, February 19, 2012

Keraton Kaibon

Ditinjau dari namanya—Kaibon berarti Keibuan—keraton ini dibangun untuk ibu Sultan Syafiuddin, Ratu Asyiah mengingat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, Sultan Syaifuddin masih sangat muda (masih berumur 5 tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan.
Keraton Kaibon
Flashback
Keraton Kaibon merupakan salah satu bangunan utama pada masa Kesultanan Banten (1526-1684), terpisah dari kompleks Keraton Surosowan sebagai pusat pemerintahan. Hal ini merupakan tradisi masyarakat Jawa dimana Keraton Kaibon merupakan tempat tinggal para istri  dan Putri-putri Kesultanan. Dengan kata lain yang lebih populer bahwa Keraton Kaibon adalah Keputrennya Kesultanan Banten. Terletak kurang lebih 2 km dari Pusat Pemerintahan Keraton Surosowan yang dikelilingi persawahan dan jalur transportasi sungai (atau lebih tepatnya kanal khusus yang dibuat pada waktu itu).
Keraton Kaibon menghadap ke Barat—Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten—yang didepannya terdapat kanal sebagai sarana transportasi menuju dan ke Keraton Surosowan. Kini, reruntuhan Keraton menjadi pusat bermain bagi anak-anak masyarakat lingkungan sekitar, seperti bermain bola atau sekedar tempat nongkrong. Sehingga tempat bersejarah ini dikawatirkan akan mengalami kerusakan yang lebih cepat bila tidak diisolasi layaknya peninggalan sejarah.

Sunday, February 12, 2012

Keraton Surosowan

Keraton Surosowan adalah sebuah keraton di Banten. Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Sultan pertama Banten, Sultan Maulana Hasanudin dan konon juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna. Dinding pembatas setinggi 2 m mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 ha. Keraton Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.
Keraton Surosowan: Sisa-sisa Pendopo Utama Keraton
Flashback
Keraton Surosowan dibangun dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin dan Pangeran Fatahillah setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Pajajaran dan merebut ibukota mereka, Banten Girang. Putra Maulana Hasanuddin, Sultan Maulana Yusuf, memperkuat benteng tersebut dengan batu karang dan batu merah. Disekeliling benteng dibangun parit-parit yang konon dulunya bisa dilayari perahu-perahu kecil hingga sampai ke laut Jawa. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, untuk mempercantik keraton Surosowan disewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna. Benteng keraton diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh. Ciri bangunan hasil rehabilitasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan pembangunan pada masa Sultan Maulana Yusuf. Pembangunan keraton Surosowan memiliki karya seni dekor tinggi pada masa itu. Bukti ini masih bisa dijumpai pada sisa ubin merah yang dipasang dengan komposisi belah ketupat. Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks keraton. Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng keraton sempat mengalami kebakaran.
Keraton Surosowan: Lokasi Sisa Bangunan Keraton
Atas pemahaman geo-politik yang mendalam Sunan Gunung Jati menentukan posisi Keraton, Benteng, Pasar, dan Alun-Alun yang harus dibangun di dekat kuala Sungai Banten yang kemudian diberi nama Keraton Surosowan. Hanya dalam waktu 26 tahun, Banten menjadi semakin besar dan maju, dan pada tahun 1552 Masehi, Banten yang tadinya hanya sebuah kadipaten diubah menjadi negara bagian Kesultanan Demak dengan dinobatkannya Hasanuddin sebagai Sultan di Kesultanan Banten dengan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan.

Monday, February 6, 2012

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Selain sebagai obyek wisata ziarah, Masjid Agung Banten juga merupakan obyek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah Kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsitekturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina, dan Eropa.
Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang. Bangunan masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah utara, barat dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan Keraton Surosowan di sebelah tengah. Arahnya ke sebelah utara dari pusat Kota Serang Keadaan masjid ini relatif terpelihara meskipun banyak yang sudah rusak. Bangunan Masjid Agung Banten, terdiri dari bangunan masjid, dengan serambi pemakaman, di kiri dan kanannya bangunan tiyamah, menara, dan tempat pemakaman di halaman sisi utara.
Masjid Agung Banten

Wednesday, February 1, 2012

Benteng Speelwijk

Mengunjungi kawasan wisata Banten lama memang boleh dibilang dengan kunjungan kebudayaan Banten tempo dulu yang sarat dengan nuansa Islam. Tapi tidak hanya itu, di kawasan ini juga terdapat sebuah peninggalan Belanda berupa reruntuhan benteng yang dikenal dengan nama Speelwijk. Adanya beberapa makam dengan bentuk khas eropa disekitar benteng semakin melengkapi budaya barat tempo dulu di objek misata ini.
Terletak sekitar 500 m dari Masjid Agung Banten, di Kampung Pamarican terdapat Benteng Speelwijk. Bangunan ini adalah simbol kekuasaan kolonialisme Belanda, sekaligus penanda berakhirnya era kejayaan Kesultanan Banten. Benteng yang arsitektunya dirancang oleh Hendrick Loocaszoon Cardeel itu dibangun belanda pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672-1684). Pembangunan Benteng ini membutuhkan waktu 4 tahun, yakni 1681-1684. (Liburan.info)
Benteng Spellwijk
Benteng Speelwijk terletak di Kampung Pamarican dekat Bandar Pabean, sekitar 600 m disebelah barat laut Keraton Surosowan, Berdena persegi panjang tidak simetris, dan pada setiap sudutnya terdapat bastion. Tembok benteng ini masih utuh tetapi sebagian sudah mengalami perusakan. Benteng ini didirikan pada tahun 1585 oleh Belanda atas reruntuhan sisi utara tembok keliling kota Banten. Dibagian luar benteng terdapat parit buatan yang mengelilinginya. (Disbudpar Banten)

Saturday, January 28, 2012

Mercusuar Anyer

Pantai Anyer mempunyai sebuah mercusuar yang berada di daerah Cikoneng. Pendirian Mercusuar ini untuk memudahkan kapal-kapal laut yang berlayar di wilayah Propinsi Banten agar tidak kehilangan arah berkat tuntunan petugas Mercusuar Cikoneng. Keberadaan mercusuar yang berjasa ini menambah satu lagi obyek wisata yang wajib dikunjungi di provinsi muda ini, selain menikmati indahnya panorma pantai, mercusuar ini saksi bisu sejarah perjalanan bangsa Indonesia zaman Belanda dan Jepang.
Melihat potensi yang ada serta tingginya nilai sejarah lokasi ini adalah pantas jika Mercusuar Anyer menjadi rekomendasi ketika berkesempatan mengunjungi wilayah wisata Pantai Anyer. Apalagi dilokasi ini pun tersedia penginapan jika ingin menghabiskan waktu untuk beristirahat di pinggir pantai.
Mercusuar Anyer
Bangunan mercusuar yang sekarang ini didirikan pada tahun 1885 pada masa Raja Willem III, seperti yang tertulis dalam prasasti yang terdapat di atas pintu masuk menara. Mercusuar ini adalah bangunan pengganti menara sebelum yang pernah ada sebelumnya yang telah hancur tahun 1883 akibat letusan gunung krakatau. Sisa pondasi mercusuar lama masih terlihat di bibir pantai yang terdiri dari struktur bata.

Tuesday, November 29, 2011

Toko Merah

Kalau sempet jalan-jalan ke kawasan kota tua Jakarta, jangan lupa untuk mampir ke Jalan Kalibesar Barat, Jakarta Kota. dikawasan yang dulunya merupakan pusat dari benteng Kota Batavia, yang mengalami masa jayanya pada abad 17 dan 18 terdapat beberapa bangunan unik khas Eropa. Dari semua bangunan yang ada disisi Kali besar tersebut ada sebuah gedung yang tampak sangat menarik perhatian kita, nama gedung itu adalah Toko Merah. Gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah itu merupakan gedung yang sangat bersejarah, hingga banyak sekali wisatawan lokal maupun asing yang datang untuk melihat keberadaan Toko Merah tersebut.
Toko Merah merupakan salah satu dari 216 monumen cagar budaya yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta yang dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaff Willem Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC, sebagai rumah tinggal yang kembar sifatnya. Selanjutnya, Toko Merah kemudian seringkali digunakan menjadi tempat penginapan bahkan perkantoran hingga saat ini.
Gedung tua sebagai saksi kejayaan Batavia lama di tepian Muara Ciliwung. Bangunan tersebut pernah menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal van Imhoff (1705-1751). Bangunan Toko Merah terletak di Jalan Kali Besar Nomor 11, Jakarta Barat. Letak bangunan pada masa kejayaan VOC sangat strategis, berada di kawasan jantung kota asli Batavia, berdekatan dengan pusat pemerintahan VOC (Stadhuis). Dari segi bisnis, Toko Merah justru terletak di tepi barat Kali Besar (de Groote River), sebagai central business district-nya Batavia. Pada saat itu Ciliwung merupakan urat nadi lalu lintas air yang ramai dilayari hingga ke pedalaman. Kawasan Kali Besar sendiri merupakan salah satu wilayah hunian elit di dalam Kota Batavia.
Asal-usul sebutan Toko Merah sendiri memiliki kisah panjang. Namun, nama resmi yang diberikan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta bagi bangunan tua ini adalah Toko Merah.
Sebelumnya, gedung tersebut pernah bernama Hoofd Kantoor Jacobson van den Berg. Dinamakan demikian karena digunakan sebagai gedung kantor pusat dari N.V. Jacobson van den Berg, salah satu perusahaan the Big Five milik Belanda yang pernah jaya di zamannya.
Toko Merah

Sunday, November 27, 2011

Gereja Katedral Jakarta

Gereja Katedral Jakarta (De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur Neo Gothic dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja selama beberapa abad yang lalu. Sebenarnya gereja ini memiliki nama panjang sebagai tambahan dari Katedral yakni dengan nama Gereja Katedral Santa Maria Pelindung Diangkat ke Surga.
Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, gereja itu pun sempat roboh.
Bangunan Gereja Katedral Jakarta yang sekarang berada di Jalan Katedral Nomor 2, merupakan hasil karya arsitek gereja yaitu Pastor Antonius Dijkmans, SJ. Seorang Pastor Belanda yang bertugas di Indonesia pada waktu itu. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.
Gereja Katedral Jakarta

Saturday, November 26, 2011

Gereja Sion

Gereja Sion dikenal juga dengan nama Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis berada di sudut Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua Raya. Bangunan gereja ini memiliki kemegahan arsitektur serta daya tahan yang kokoh. Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis selesai dibangun pada tahun 1695. Peresmian gedung gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693.
Meski berada di wilayah Kota Tua, namun dulunya gereja ini masih berada diluar tembok pusat kota yang berpusat di Batavia. Maka tak heran jika saat itu, gereja ini diberi nama Gereja Portugeesche Buitenkerk yang artinya, Gereja orang Portugis yang berada di luar tembok Kota. Maklum saja saat Belanda berkuasa, tembok besar dibangun sebagai pembatas antar kota, dimana orang Tionghoa diasingkan ke Glodok.

Gereja Sion 
Cerita lengkap pemberkatan gereja ini tertulis dalam bahasa Belanda pada sebuah papan peringatan. Sampai sekarang, masih bisa dilihat di dinding gereja.

Monday, November 21, 2011

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah dikenal juga sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia. Museum ini merupakan museum terbesar di Jakarta. Di Museum Sejarah Jakarta bisa ditelusuri jejak sejarah kota Jakarta yang menempati gedung bekas Stadhuis atau Balai Kota.
Terletak di ujung jalan yang sibuk atau tepatnya di Jalan Taman Fatahillah Nomor 2, gedung ini merupakan sebuah gedung tua peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1620-1707 atas perintah Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen semasa VOC berkuasa dengan luas bangunan 1.300  m². (Warta Warga Universitas Gunadarma/Wikipedia)
Bangunan Museum Fatahilah selesai dibangun pada 1710 dan pernah menjadi kantor gubernur Hindia Belanda. Kompleks bangunan ini cukup luas, terdiri dari bangunan utama yang mempunyai tiga lantai serta dua bangunan sayap di bagian kiri dan kanan. (okezone.com)
Museum Fatahillah

Thursday, November 17, 2011

Istana Merdeka

Salah satu dari enam istana kepresidenan Republik Indonesia. Istana Merdeka terletak di Jalan Merdeka Utara menghadap Medan Merdeka atau lebih populer dengan sebutan Lapangan Monas. Istana Merdeka berada dalam satu pekarangan dengan Istana Negara dalam posisi bertolak belakang sehingga sering disebut Istana Kembar. Istana Merdeka adalah tempat resmi kediaman dan kantor Presiden Indonesia yang terletak satu kompleks dengan Istana Negara dan Bina Graha.
Istana Merdeka mendapat tempat khusus di hati rakyat karena bernama Merdeka—perlambang kemenangan perjuangan bangsa. Nama itu menandai berakhirnya penjajahan di Indonesia dan mulainya pemerintahan oleh bangsa sendiri.
Istana Merdeka
Istana dengan luas sekitar 2.400 m² ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873 dalam kaveling yang sama dengan Istana Rijswijk yang mulai sesak. Awalnya bernama Istana Gambir, Istana yang diarsiteki Drossaers ini pada awal masa pemerintahan Republik Indonesia sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J. Lovink, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia. (Istana Kepresidenan RI/Wikipedia)