Pages

Wednesday, August 1, 2012

Hotel Savoy Homann

Hotel Savoy Homann terletak di Jalan Asia Afrika Nomor 61, Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur, Bandung, secara geografis berada dan pada garis koordinat 06ᵒ55'17,8" LS dan 107ᵒ36'37,8" BT, di kawasan kota bersejarah alun-alun Kota Bandung, letaknya di kiri depan Gedung Merdeka. Hotel ini berbatasan dengan batas utara: Jalan Asia Afrika, batas Timur: Kantor Keuangan, batas selatan gang kecil, batas barat: Jalan Homann/Toko Padang. Sekarang kawasan telah menjadi kawasan perkantoran dan pusat perdagangan, dan untuk mencapainya dapat menggunakan kendaraan pribadi roda empat atau dua dan dapat menggunakan kendaraan umum yang selalu bolak-balik melewati kawasan dari Terminal Bis Cicaheum, Stasiun Hall (Stasiun Kereta Api) atau dari Terminal Bis Leuwipanjang.
Salah satu hotel tertua di Pulau Jawa ini menjadi saksi sejarah berkembangnya pariwisata di bumi nusantara. Hotel ini, sama halnya Hotel des Indes di Batavia (sekarang Pertokoan Duta Merlin), menjadi hotel-hotel yang direkomendasikan para pelancong Eropa, terutama untuk urusan makanannya yang mewah dan dihidangkan dengan gaya rijsttafel.
Hotel Savoy Homann
Hotel Savoy Homann adalah hotel bintang empat yang berada di Jalan Asia-Afrika (dahulu Jalan Raya Pos) Nomor 112, Cikawao, Lengkong, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Hotel ini dikenal akan arsitektur dan tamu-tamunya.

Friday, July 20, 2012

Museum Geologi

Museum Geologi terletak tidak jauh dari Gedung Sate dan masih berada dalam satu kawasan bangunan-bangunan bersejarah. Gedung berada di sisi Jalan Diponegoro Nomor 57, yang termasuk ke dalam Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong. Secara geografis berada pada koordinat 06ᵒ54'03,3" LS dan 107ᵒ37'16,9" BT. dan sekitar gedung kini telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk mencapainya relatif mudah melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda empat atau dua ataupun menaiki kendaraan umum yang melewati kawasan ini relatif banyak.
Selain sebagai museum, difungsikan pula sebagai labolatorium geologi, dan sampai sekarang pemanfaatannya tetap sama sesuai fungsinya dan dikelola oleh Museum Geologi/Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dengan luas gedung ±3.617,08 m² dan luas kawasan ±8.342,52 m².
Gedung Museum berbatasan dengan, di sebelah utara: Jalan Surapati, timur: Gedung RRI, selatan: Jalan Diponegoro, barat: Jalan Sentot Alibasa. Koleksi Museum Geologi terdiri batuan dan mineral ±250.000 buah, koleksi fosil dan lain-lain ±60.000 buah. Museum Geologi merupakan museum terbesar koleksinya se-Asia Tenggara.
Flashback
Masa Penjajahan Belanda Keberadaan Museum Geologi berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli Eropa. Setelah Eropa mengalami revolusi industri pada pertengahan abad ke-18, Eropa sangat membutuhkan bahan tambang sebagai bahan dasar industri. Pemerintah Belanda sadar akan pentingnya penguasaan bahan galian di wilayah nusantara. Melalui hal ini, diharapkan perkembangan industri di Belanda dapat ditunjang. Maka pada tahun 1850 dibentuklah Dienst van het Mijnwezen. Kelembagaan ini berganti nama jadi Dienst van den Mijnbouw pada tahun 1922, yang bertugas melakukan penyelidikan geologi serta sumber daya mineral.
Hasil penyelidikan yang berupa contoh-contoh batuan, mineral, fosil, laporan, dan peta memerlukan tempat untuk penganalisaan dan penyimpanan,sehingga pada tahun 1928 Dienst van den Mijnbouw membangun gedung di Rembrandt Straat Bandung. Gedung tersebut pada awalnya bernama Geologisch Laboratorium yang kemudian juga disebut Geologisch Museum.
Museum Geologi

Saturday, July 14, 2012

Gedung Sate

Membandingkan Gedung Sate dengan bangunan-bangunan pusat pemerintahan (capitol building) di banyak ibukota negara sepertinya tidak berlebihan. Persamaannya semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan menara sentral yang megah. Terlebih dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif mirip dengan Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat. Dapat dikatakan Gedung Sate adalah Gedung Putih-nya kota Bandung.
Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, telah lama menjadi penanda atau markah tanah Kota Bandung yang tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, namun juga seluruh Indonesia bahkan model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda-tanda kota di Jawa Barat. Misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Mulai dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.
Jika mengunjungi Gedung Sate di Jalan Dipenogoro Nomor 22, Bandung, dapat ditemui sebuah tugu yang terbuat dari batu alam di halaman depannya. Pada batu tersebut terdapat tulisan yang berbunyi “Dalam mempertahankan Gedung Sate terhadap serangan pasukan Gurkha tanggal 3 Desember 1945, tujuh pemuda gugur dan dikubur oleh pihak musuh di halaman ini. Bulan Agustus 1952 diketemukan jenazah Suhodo, Didi, dan Muchtarudin, yang dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Jenazah Rana, Subengat, Surjono, dan Susilo tetap berada di sini.” Rupanya, ada jenazah yang masih terkubur di halaman gedung tersebut. Meskipun tidak banyak orang yang mengetahuinya, kisah yang terkandung pada tugu batu tersebut tidak akan pernah hilang dari sejarah.
Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².
Flashback
Gedung Sate didirikan pada 27 Juli 1920, gedung ini awalnya memang dibangun sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dimana Pemerintahan Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai Ibukota negeri jajahannya di Indonesia. Pemilihan Kota Bandung didasarkan pada pertimbangan iklim yang cocok karena Kota Bandung begitu sejuknya ditambah pemandangan alam yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat ini senyaman Perancis Selatan di musim panas.
Dengan penetapan pusat pemerintah itu, maka dibangunlah Gedung Sate atau Gouvernements Bedrijven sebutannya di masa itu dengan perencanaan yang dibuat secara matang oleh suatu tim yang diketuai Kolonel Purnawirawan V.L. Slors, beranggotakan antara lain Ir. J. Berger, arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan In G. Hendriks serta pihak Gemeete van Bandoeng. (Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat)
Gedung Sate

Sunday, July 8, 2012

Istana Kepresidenan Bogor

Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia yang mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan faunanya. Salah satunya adalah keberadaan rusa-rusa yang didatangkan langsung dari Nepal dan tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.
Saat ini sudah menjadi trend warga Bogor dan sekitarnya setiap hari Sabtu, Minggu, dan hari libur lainnya berjalan-jalan di seputaran Istana Bogor sambil memberi makan rusa-rusa indah yang hidup di halaman Istana Bogor dengan wortel yang diperoleh dari petani-petani tradisional warga Bogor yang selalu siap sedia menjajakan wortel-wortel tersebut setiap hari libur. Seperti namanya, istana ini terletak di Bogor, Jawa Barat.
Walaupun berbagai kegiatan kenegaraan sudah tidak dilakukan lagi, khalayak umum diperbolehkan mengunjungi secara rombongan, dengan sebelumnya meminta izin ke Sekretaris Negara, c.q. Kepala Rumah Tangga Kepresidenan.
Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda Nomor 1, Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kotamadya Bogor, Provinsi Jawa Barat, sekitar 60 km dari Jakarta atau 43 km dari Cipanas. Istana ini berada di pusat kota Bogor, di atas tanah berkultur datar, seluas sekitar 28,86 ha, di ketinggian 290 m dpl.
Istana Kepresidenan Bogor: Istana Bogor

Sunday, April 1, 2012

Cagar Alam Rawa Danau

Rawa Danau adalah salah satu tempat wisata di Provinsi Banten. Keindahannya akan memikat mata wisatawan yang mengunjungi tempat ini. Banyak sekali touring atau kelompok sepeda yang mendatangi tempat ini. Selain karena keindahan alamnya, tempat ini juga termasuk tempat wisata yang unik karena terdapat rawa-rawa yang ditumbuhi banyak pepohonan. Cagar Alam Rawa Danau mempunyai kawasan konservasi endemis seluas 2.500 ha yang ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon, dalam bentuk rawa pegunungan satu-satunya yang ada dan masih tersisa di Pulau Jawa.
Pulau ini menjadi tempat bersarang bagi aneka jenis binatang reptil, seperti ular dan buaya. Tidak kurang dari 250 jenis burung bermukim di kawasan ini. Wisatawan dapat menikmati keindahan cagar alam ini dari areal perbukitan di Kampung Panenjoan, Desa Luwuk, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang.
Cagar Alam Rawa Danau
Wisatawan dapat mencapai lokasi ini melalui tiga jalur, yaitu; Jakarta-Cilegon-Anyer-Rawa Danau, Jakarta-Serang-Padarincang-Rawa Danau, dan Jakarta-Serang-Anyer-Cinangka-Padarincang-Rawa Danau.